Selasa, 02 November 2010

BMKG : Waspadai Cuaca Ekstrim di Pesisir Sumbar

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Maritim Teluk Bayur Padang, mengimbau pelaku pelayaran dan nelayan untuk mewaspadai cuaca ekstrim yang masih berpotensi terjadi empat hari ke depan di perairan pesisir Sumatera Barat.

"Prakiraan gelombang laut Pantai Padang-Mentawai empat hari ke depan masih berpotensi dua sampai tiga meter. Kita minta semua pihak terkait waspada agar terhindar dari hal tak diinginkan," kata Kepala BMKG Maritin Teluk Bayur Padang, Amarizal di Padang.

Menurut Amarizal, berlangsung cuaca ekstrim di wilayah pesisir pantai barat Sumbar beberapa hari terakhir, dan empat hari ke depan karena dipicu terjadinya badai tropis di perairan selatan Bengkulu-Lampung.

Akibatnya memicu pertumbuhan awan di wilayah pesisir pantai barat Sumbar, termasuk potensi angin kencang yang bisa berpengaruh terhadap gelombang laut.

Jadi, tambahnya, angin semuanya mengarah ke wilayah pesisir pantai barat Sumbar, sehingga potensi gelombang di kawasan perairan laut lepas atau bagian barat Mentawai bisa mencapai empat sampai lima meter.

Sedangan di perairan Sumbar antara pantai Padang-Mentawai sewaktu-waktu gelombang laut bisa saja lebih tinggi dari yang diprakirakan, bila ada angin dan cuaca akan hujan.

Justru itu, diingatkan kepada para nelayan dan pelaku pelayaran untuk lebih waspada, terutama kalau cuaca mau hujan agar terhindar bencana.

Selain itu, relawan dan tim evakuasi dalam menjalankan misi kemanusian di perairan Kepulauan Mentawai, untuk tetap lebih berhati-hati.

"Umumnya dalam penyebaran logistik bantuan di Kepulauan Mentawai, untuk korban gempa dan tsunami kapal-kapal kecil nelayan," katanya.

Oleh karena itu, bila cuaca akan turun hujan supaya ditunda perjalanan terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal diluar dugaan.

"Cuaca cepat berubah sehingga perlu kewaspadaan masyarakat, dan nelayan serta pelau pelayaran," imbaunya.

Cuaca di wilayah Kota Padang, sejak akhir pekan tidak menentu yang menimbulkan kekhawatiran sejumlah warga. Cuaca sejak pagi mendung, tiba-tiba turun hujan disertai angin kencang.

Namun, berlangsung sekitar 30 menit kembali redah, dan berjarak sejam kemudian hujan turun lagi yang disertai angin kencang dan terus berulang hingga malam harinya.

Senin, 01 November 2010

Matsushima, Views Of Japan

Matsushima adalah salah satu dari 3 tempat pemandangan yang paling terkenal di Jepang (atau biasa disebut sebagai "Three Views of Japan" / "Nihon Sankei").

Selama berabad-abad lamanya, teluk Matsushima telah dikenal oleh orang Jepang sebagai tempatnya para dewa bersinggah.

Dikelilingi lebih dari 260 pulau kecil yang dipenuhi oleh ribuan pohon pinus, siapa yang tidak terkesima olehnya?




Dengan laut biru yang indah, pemandangan yang luas megah namun tenang bersahaja telah digunakan oleh banyak artis dan seniman sebagai tema untuk penulisan Waka (puisi tradisional Jepang) dan Haiku (puisi tradisional Jepang yang terdiri dari 17 suku kata) sejak zaman Nara.

Matsushima Toro Nagashi Hanabi Taikai adalah nama sebuah festival lentera dan kembang api yang diadakan di teluk Matsushima setiap bulan Agustus dimana lebih dari 8.000 kembang api diluncurkan ke langit, sementara ratusan lentera bercahaya menghiasi teluk dari sore hingga malam hari dengan suasana cantik nan magis.







Teka-Teki Mesin Waktu di Film Charlie Chaplin Terkuak

Spekulasi tentang adanya mesin waktu yang tertangkap kamera pada acara premiere film Charlie Chaplin, akhirnya terpecahkan.

Perkiraan adanya mesin waktu pada rekaman video yang dibuat pada 1928 itu ternyata tidak terbukti.

Maraknya spekulasi adanya mesin waktu dipicu oleh rekaman yang mempertunjukka adanya seorang wanita yang dicurigai tengah menelepon seseorang melalui perangkat ponsel. Wanita itu melintas di acara premiere film Charlie Chaplin "The Circus" di Manns Chinese Theatre, Hollywood, California, berjalan sembil menempelkan sesuatu pada telinganya.

Padahal pada 1928, telepon seluler belum ditemukan. Bahkan, perangkat telekomunikasi pertama 'Walkie-Talkie' Motorola baru dikembangkan sekitar tahun 1940-an, atau lebih dari satu dekade setelah film bisu Chaplin itu beredar.

Pembuat film asal Irlandia, George Clarke mengklaim bahwa wanita yang tertangkap basah oleh kamera adalah seorang time traveler, atau pengelana antar waktu yang menggunakan mesin waktu, yang tengah menggunakan ponsel modern.

Namun hal itu dibantah oleh seorang pakar sejarah. Kepada LiveScience, sejarawan Phillip Skroska mengatakan benda yang dikenakan wanita tersebut kemungkinan adalah sebuah alat bantu pendengaran. "Mesin pembantu pendengaran lawas memiliki bentuk yang tak musti panjang dan melingkar."

"Alat bantu dengar di zaman itu bentuknya bisa pendek dan kompak," kata pria yang berprofesi sebagai pengarsip pada Bernard Becker Medical Library of Washington University di St Louis itu.

Pada abad 19 alat semacam itu masih dibuat dalam jumlah yang banyak, dan terus hingga awal abad 20. "Dengan memperkirakan wanita ini berusia lebih dari 50 tahun, jadi sepertinya ia menggunakan alat bantu dengar model akhir abad 19," kata Skroska.

Penjelasan Skroska tersebut memang tidak terlalu menarik ketimbang spekulasi awal yang muncul. Namun, setidaknya penjelasannya bisa menjadi salah satu alternatif penjelasan yang sangat masuk akal.